
Tamu terakhir itu
pasti akan datang menemui kita.
Ia datang bukan untuk mengambil paksa sebagian harta milik kita.
Bukan pula ingin menyantap makanan di meja makan dan mengambil minuman di
lemari es milik kita.
Tidak
pula ingin meminta pertolongan kepada kita untuk melunasi hutang-hutangnya.
Atau pun meminta syafaat.
Dan bukan pula menghiba kepada kita agar diringankan beban berat yang ia
tanggung.
Ia
datang kepada kita membawa misi dan tugas yang pasti.
Kita, kerabat, handaitaulan dan bahkan jika penduduk bumi seluruhnya
dikerahkan; tak mampu menahan ketibaannya.
Jika
kita berlindung di sebuah istana yang megah, yang dikelilingi benteng kokoh dan
pagar-pagar yang kuat. Dan kita dijaga para pengawal dan bodyguard sekalipun,
maka dengan mudah ia menerobos masuk menjumpai kita.
Sesungguhnya ia tak perlu mengetuk pintu atau meminta izin bertemu dengan kita.
Atau membuat janji sebelumnya dengan kita.
Bahkan
ia datang menemui kita setiap waktu dan dalam keadaan yang bagaimanapun jua.
Sibuk ataukah senggang. Sehat atau sakit, kaya atau miskin, di perjalanan atau
menetap di sebuah tempat.
Tamu
kita ini tidak memiliki kelembutan hati, yang akan tersentuh oleh kata-kata
hiba dari kita atau luruh melihat tetesan air mata kita. Tetap kunjungannya tak
akan mundur walau sesaat.
Demikian
pula ia tidak menerima hadiah dan suap. Karena harta dunia seluruhnya tidak
sebanding baginya dengan apa pun walau seharga sayap nyamuk.
Karena yang dia kehendaki hanyalah diri kita. Bukan selain kita. Yah ia ingin
mengambil ruh kita. Memisahkan nyawa dengan raga kita. Itulah akhir perjalanan
hidup kita.
Dialah
malaikat pencabut nyawa.
Ketika
ia datang, maka harta yang berlimpah. Asset yang bertebaran di mana-mana.
Jabatan yang disandang. Wanita jelita pendamping hidup. Mobil mewah yang
dipunyai. Gaji yang besar. Dan anak-anak yang lucu dan montok. Semuanya
ditinggalkan. Hanya iman dan amal shalih yang akan membantu kita di nun jauh di
sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar